Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2022

Kesunahan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

 

Kesunahan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Bulan Rabí’ul Awwal, adalah bulan mulia dan agung. Karena pada bulan inilah terlahir sosok agung, Nabi Muhammad saw. Kaum muslim di seantero dunia memperingatinya dengan penuh cinta dan suka cita. Ini mereka lakukan sebagai bentuk syukur terhadap karunia agung yang diberikan Alláh swt.

Bahkan, kalau merujuk pada Alquran, akan didapati ayat yang bersifat perintah utuk mengingat-ingat hari-hari mulia, yang di bahasakan dengan Ayyamillah (hari-hari Alláh Swt), tepatnya pada ayat ke 5 surah Ibrahim, Alláh swt berfirman :

وذَكِّرهم بأَيامِ اللهِ

Ingatkanlah mereka mengenai Hari-Hari Allah”

Sekian banyak mufasir berpendapat bahwa maksud dari Ayyámillah adalah hari di mana Alláh Swt mencurahkan nikmat-nikmat-Nya. Nikmat terbesar bagi umat Islam adalah dilahirkannya Nabi Muhmmad Saw. Sehingga, memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah bagian yang diperintahkan Allah Swt untuk terus diperingati agar umatnya mengenal sosok Nabi saw dan mampu meneladani akhlak luhurnya.

Bahkan mengekspresikan kebahagian dan syukur atas hadirnya Nabi saw di muka bumi ini pun diperintahkan Allah swt, sebagaimana terdapat dalam ayat ke 58 surah yunus, Alláh swt berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

Katakanlah! dengan Fadl dari Alláh dan  Rahmatnya lah, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

Al-Imam as-Suyúthi dalam tafsir ad-Dur al-Mantsur fí tafsír bi ma’tsur, mengutip salah satu pendapat Ibn Abbas yang mengatakan bahwa maksud kata fadlullah dalam ayat tersebut adalah Ilmu, dan rahmat bermakna Nabi Muhammad Saw, hal ini berdasarkan surah al-Anbiyá ayat ke 107. Surah at-Taubah ayat 128. Nabi saw diutus sebagai rahmat dan mempunyai sifat rahím. artinya. Muhammad adalah rahmat itu sendiri.

Ada sebagian kalangan yang mempermasalahkan tafsir kata rahmat dengan hadir dan lahirnya Nabi saw, karena berpandangan bahwa para mufasir lain, memberikan makna rahmat itu dengan al-Quran atau Islam. Maka, sebenarnya penafsiran kata rahmat dengan Alquran atau Islam atau dengan hadirnya Nabi saw tidaklah bertentangan.

Bukankah Nabi bertugas menyebarkan agama Islam yang merupakan agama rahmat? Bukankah Alquran yang penuh dengan rahmat diturunkan kepada Nabi Saw?  Jadi, tidaklah keliru jika kalimat rahmat itu mencakup Nabi saw, Islam, dan Alquran, karena ketiganya itu adalah rahmat Allah swt.

Maka, kebahagian hakiki adalah bahagia karena lahir dan hadirnya Nabi saw di tengah-tengah kita.

Al-Imám al-Bukhári, didalam kitab shahihnya, meriwayatkan sebuah hadis Nabi saw  yang berkaitan dengan Tsuwaibah, bekas budaknya Abu Lahab, yang kelak menyusui Nabi Saw beberapa saat.

وَثُوَيْبَةُ مَوْلاَةٌ لأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ.

Tsuibah adalah budak abu lahab yang dimerdekakan olehnya, kemudain ia menyusui Nabi saw. Ketika abu lahab sudah meninggal dunia, ada kerabatnya yang bermimpi bertemu dengan abu lahab dan menanyakan kondisinya, abu lahab menjawab ‘aku tidak mendapati kebaikan, kecuali aku diberikan minum – dalam kitab umdatul Qari, air minum itu keluar dari lubang antara jempol dan telunjuk- karena aku pernah memerdekakan tsuaibah’

Al-Imám Ibn Katsír didalam kitab al-Bidáyah wa an-Niháyah mengatakan bahwa Abbás bermimpi bertemu Abu Lahab setelah satu tahun wafatnya, dan berkata keringanan siksaan itu terjadi setiap hari senin. Para ulama dan sejarawan menuturkan bahwa keringanan yang di dapatkan oleh abu lahab disebabkan ia pernah bahagia dengan kelahiran Nabi Saw yang diekspresikan dengan memerdekakan tsuwaibah . Abdulrahman as-Suhaili didalam kitab al-Raudhu al-Unf mengatakan:

وَكَانَتْ ثُوَيْبَةُ قَدْ بَشّرَتْهُ بِمَوْلِدِهِ فَقَالَتْ لَهُ أَشَعَرْت أَنّ آمِنَةَ وَلَدَتْ غُلَامًا لِأَخِيك عَبْدِ اللّهِ ؟ فَقُالْ لَهَا : اذْهَبِي ، فَأَنْتِ حُرّةٌ فَنَفَعَهُ ذَلِكَ وَفِي النّارِ كَمَا نَفَعَ أَخَاهُ أَبَا طَالِبٍ ذَبّهُ عَنْ رَسُولِ اللّهِ – صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فَهُوَ أَهْوَنُ أَهْلِ النّارِ عَذَابًا

Tsuaibah memberi tahukan kabar gembira kelahiran Muhammad saw kepada Abu lahab, seraya berkata ‘aku berikan kabar gembira bahwa aminah melahirkan  anak laki-laki dari saudaramu abdullah’ abu lahab berkata ‘pergilah, sekarang kamu merdeka’, maka hal ini lah yang memberikan manfaat kepada abu lahab di neraka, ia mendapatkan keringanan siksaan, seperti abu thalib yang mendapatkan keringanan siksaan akibat selalu menolong dan melindungi nabi saw.

Keberadaan kisah ini dalam kitab shahíh al-Bukhári, sudah menjadi argumentasi kuat tentang keabsahan kisah ini, yang menyatakan abu lahab mendapatkan keringanan siksaan akibat pernah satu kali berbahagia atas kelahiran nabi saw, yang diekspresikan dengan memerdekakan tsuwaibah. Akan tetapi, masih ada kalangan yang menolak kisah ini dengan alasan bertolak belakang dengan ayat-ayat al-Qur’an seperti ayat ke 16 surah hud, dan ayat ke 23 surah al-Furqan.

Dalam persoalan ini, para ulama terbagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama,ulama yang menggunakan teori ‘Amm dan Khásh, ayat-ayat yang menyatakan bahwa orang kafir pasti masuk neraka dan amal baik yang dilakukannya itu sia-sia sepeti debu yang berterbangan adalah bersifat umum untuk orang kafir, dan ditakhsís dengan hadis shahíh ini, yang membicarakan adanya keringanan siksaan. Artinya keringanan siksaan itu hanya berlaku jika ada nash yang mentakhsisnya. Seperti keringanan siksaan abu lahab dan abu thálib yang diriwayatkan dalam shahih bukhari dan muslim. Hal ini sejalan dengan pendapatnya al-Imám al-Qurthubí yang mengatakan:

هذا التخفيف خاص بهذا ومن ورد النص فيه.

Kedua, kelompok ulama yang mengatakan bahwa orang kafir sama sekali tidak akan merasakan manfaat amal baiknya di akhirat, hal ini sejalan dengan pendapatnya al-Imám al-Qádhi ‘iyadh yang berakta:

انعقد الإجماع على أن الكفار لا تنفعهم أعمالهم ولا يثابون عليها بنعيم ولا تخفيف عذاب وإن كان بعضهم أشد عذابا من بعض.

Telah terjadi ijmak bahwa amal baik orang kafir selama di dunia tidak memberikan manfaat dan tidak akan diberikan pahala atau balasan berupa kenikmatan surga atau keringanan siksaan, walau pun sebagaian mereka mendapatkan siksaan yang lebih berat dibandingkan yang lainnya.

Ketiga, kelompok ulama yang mengatakan bahwa orang kafir pun bisa merasakan manfaat amal baiknya selama didunia, dengan diringankannya siksaan akibat melakukan dosa-dosa, salian kekufuran. Sedangkan dosa kekufuran, inilah yang membuat orang kafir abadi di neraka. Hal ini senada dengan pendapatnya al-Imám al-Baihaqi yang berkata:

ما ورد من بطلان الخير للكافر فمعناه أنهم لا يكون لهم التخلص من النار ولا دخول الجنة ويجوز أن يخفف عنهم من العذاب الذي يستوجبونه على ما ارتكبوه من الجراءم سوى الكفر بما عملوه من الخيرات.

Keterangan-keterangan yang menjelaskan gugurnya kebaikan dari orang kafir, maksudnya adalah bahwa mereka tidak akan selamat dari neraka dan tidak akan masuk surga, tapi boleh saja siksaan mereka diringankan terhadap dosa-dosa yang dilakukan selain ke kafiran, sebab amal kebaikan yang mereka lakukan.

Nah, tiga pendapat para ulama ini sebenarnya tidaklah bertentanga. karena semuanya sepakat bahwa siksaan neraka nyata adanya bagi orang kafir, dan siksaan mereka bertingkat-tingkat, adanya peringanan siksaan bukan berarti menghilangkan seluruh siksaan itu,  Itulah mengapa Neraka diciptakan bertingkat tingat, dan orang munafik menempati tingkat paling dalam dari neraka.

Tulisan ini, saya akhiri dengan mengutip sebuah syair karya al-Hafidz Syamsuddín Muhammad ibn Náshiruddín ad-Dimasyqi

إذا كان هذا كافرا جاء ذمه * بتبت يداه في الجحيم مخلدا

أتى أنه في يوم الإثنين دائما * يخفف عنه للسرور بأحمد

فما الظن بالعبد الذي طال عمره * بأحمد مسرورا ومات موحدا

Jika orang kafir ini (abu lahab) yang  sudah dipastikan masuk neraka dan abadi didalamnya

Setiap hari senin selalu mendapatkan keringanan siksaan akibat pernah bahagia dengan Muhammad

Bagaimana lagi dengan seorang hamba yang sepanjang usianya selalu bahagia atas kelahiran Muhammad dan wafat dalam keadaan bertauhid.

 

Minggu, 25 September 2022

HANYA 8,6 DETIK KITA HIDUP DI DUNIA!

 HANYA 8,6 DETIK KITA HIDUP DI DUNIA!


Oleh: Ang HidayatusshibyanAsy-Syafi'ie
(PPMH AL-MUBAROK)

أللهم لا عيش إلا عيش الأخرة (رواه البخاري)
Artinya:
“Ya Allah, tidak kehidupan (sejati. Pent) kecuali kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari)

Keterangan:
Berbicara soal hidup, kita sering kali mendengar ada orang yang sangat mengeluh sangat pesimis, “Hidupku sudah tidak berarti lagi”. Lain waktu, kita mendengar ucapan yang bermakna sebaliknya, sangat optimis. “Rasa-rasanya saya adalah orang yang paling bahagia di dunia ini”. Dua ungkapan harian ini menunjukkan bahwa betapapun manariknya hidup ini, toh dapat membuat orang sengsara dan membuat orang bahagia.[1] kemudian timbul pertanyaan yang tidak bisa diingkari, apakah benar kehidupan manusia di dunia ini mempunya makna dan tujuan? Ataukah sesungguhnya hidup ini terjadi karena kebetulan belaka, tanpa makna apapun, dan tanpa tujuan sama sekali? Al-Quran juga tidak kalah serius mengajukan pertanyaan, “Apa kamu mengira bahwa Kami menciptakanmu sekalian secara sia-sia?”
Beberapa pertanyaan di atas menggambarkan problem makna hidup. Dalam hal ini, ada dua kelompok yang representatif mendiskripsikan problem makna hidup di atas, yaitu kaum Pesimis dan kaum Optimis.
1.      Kaum Pesimis
Kaum Pesimis berpandangan bahwa hidup ini tidak bermakna sekaligus tidak bertujuan, bahkan mengambil pengalaman keseluruhan manusia sebagai pangkal penalarannya. Mereka berpendapat bahwa hidup ini tidak saja tanpa makna dan tujuan, melainkan juga penuh kesengsaraan. Sehingga mati lebih baik dari pada hidup. Karena itu, menurut mereka, semua orang, seandainya bisa memilih, tentu akan memilih tidak ada dan hidup di dunia ini, dan puas dengan “damainya ketiadaan yang serba berkecukupan” (the piece of the all-sufficient nothing).
Selain alasan di atas, mereka menolak hidup memiliki makna dan tujuan dengan beberapa alasan. Pertama, mereka beranggapan bahwa setiap orang yang hidup pasti akan mengalami kematian, sedangkan kematian adalah peristiwa teragis dan amat menyedihkan. Ini berarti, menurut kamu Pesimis, hidup ini hanyalah proses menuju tragedi itu. jadi, hidup ini adalah kesengsaraan.
Kedua, mereka menolak hidup memiliki tujuan dan makna karena di dalam kehidupan tidak ada kebahagiaan sejati. Setiap gambaran mengenai kebahagiaan adalah palsu. Sebab, kebahagiaan itu sendiri adalah palsu. Suatu lukisan kebahagiaann akan menarik hati seseorang hanya selama lukisan itu masih berupa ide yang belum teerwujud, atau malah di masa lalu yang diromantiskan dan didambakan kembali secara nostalgik. Orang pun terdorong untuk mewujudkan lukisan kebahgiaan itu. tapi segera setelah usaha mewujudkan lukisan kebahagiaan itu dianggap selesai dan tujuan tercapai, mulailah kekecewaan demi kekecewaan timbul. Karena kebahagiaan adalah hal yang semu dan palsu, maka manusia adalah makhluk yang sengsara.
Ketiga, kaum Pesimis menolak makna dan tujuan hidup karena mereka mendifinisikan kebahagiaan itu secara negatif. Menurut mereka, jika kebahagiaan itu memang ada, maka akan didefinisikan secara negatif: “kebahagiaan ialah tidak adanya kesengsaraan”. Karena kebahagiaan adalah negatif, maka dirinya tidak mengandung kesejatiaan alias palsu. Oleh karena itu hidup adalah kesengsaraan.
2.      Kaum Optimis
Kaum Optimis memiliki pandangan bahwa hidup ini memiliki makna dan tujuan. Oleh karena itu, “menghidupkan” atau “menghidupi” orang adalah lebih baik dari pada “mematikan”-nya. kenyataan umum pada hampir setiap orang ialah pandangan bahwa hidup ini cukup berharga, karena memiliki makna dan tujuan. Tujuan hidup adalah memperoleh kebahagiaan, dan makna hidup ada dalam proses usaha mencapai tujuan itu. artinya, pertanyaan tentang makna hidup dilontarkan dalam rangka memutuskan bagaimana cara menjalani hidup ini. Oleh karena itu, hampir tidak ada orang yang tidak mempunyai makna dan tujuan hidup. Setiap orang memiliki tujuan yang cukup berharga untuk diperjuangkan agar terwujud. Karena adanya harapan itu akan menjadi penyangga kekuatan jiwanya untuk tetap hidup ditengah kemungkinan seseorang tertimpa kesengsaraan.[4]
Makna dan Tujuan Hidup Manusia dalam Islam
Sekarang kita hidup di dunia, tepatnya menghuni bumi. Namun suatu saat, dengan mengalami kematian, bumi akan hilang dari persepsi kita. Karena persepsi kita mengenai bumi adalah berdasarkan kelima indra kita. Maka apa yang kita lihat sebagai bumi, dunia kita, hanyalah sebatas kemampuan fisik kita untuk melihat dan mengalami.
Pada saat kematian, bumi yang kita tinggali ini akan berada di luar kisaran persepsi kelima-indra kita, dan karenanya menjadi tidak terlihat oleh kita, tapi kita akan terus ada dengan apa yang disebut dengan badan-rohani. Badan astral atau badan halus kita, di dalam magnet bumi dan terkena tarikan magnetik dari matahari.
Meskipun hubungan fisik kita akan berakhir melalui kematian, badan-badan rohani kita akan terus hidup di dalam sabuk radiasi Von Allen yang terkena medan magnet bumi di dalam pentas (platform) matahari, seperti halnya yang saat ini kita jalani. Namun di dalam keadaan keberadaan baru ini, bumi tidak akan nampak kepada kita; kita akan melanjutkan kehidupan pada pentas (platform) radial matahari, hanya saja pada saat ini dengan persepsi-ruh kita bukannya dengan persepsi indra tubuh fisik kita.
Dengan mengasumsikan bahwa kita hidup selama 70 tahun di bumi, akan berarti apakah angka ini jika kita mati? Karena kita akan pada zona waktu matahari, dan satu tahun dari sudut pandang matahari adalah 255 juta tahun, maka 70 tahun itu akan ekivalen dengan 8,6 detik. Yakni, orang mati pada usia 70 tahun dan berpindah dimensi ke dimensi kehidupan berikutnya – yang terikat zona waktu matahari – ia akan berkata, “Berapa lama aku hidup di bumi? Apakah kehidupanku yang tidak lebih lama dari sebuah mimpi?”
Di dalam al-Quran, hal ini merujuk pada ayat, “Pada hari ketika mereka melihatnya, akan terasa seolah mereka tidak tinggal (di dunia ini) kecuali hanya selama waktu terbenamnya matahari (atau selama waktu senja).” Kata asal yang digunakan untuk terbenamnya matahari atau senja adalah asyiyyah, yang ekuivalen dengan waktunya shalat malam. Sebagaimana diketahui, ini adalah priode pendek dimana warna kemerahan di langit menghilang setelah matahari terbenam. Waktu ketika matahari tidak lagi kelihatan, namun cahayanya belum benar-benar hilang; waktu singkat yang hanya sesaat sebelum hari menjadi gelap.
Ketika kita melihat ke atas langit dan warna kemerahan dari matahari yang baru terbenam menghilang. Tiba-tiba kegelapan akan melingkupi kita. Seperti itulah singkatnya waktu yang akan dirasakan ketika seseorang mati, meninggalkan zona waktu bumi, memasuki dimensi alam kubur dan kemudian terkena zona waktu matahari!
Ketika kita mimpi selama tidur kita, berdasarkan indrawi fisik duniawi dan konsep waktu kita sekarang, mimpi-mimpi kita bertahan selama sekitar 40 hingga 50 detik. Namun ketika kita sedang bermimpi, beberapa detik tersebut terasa lebih lama. Namun demikian, ketika kita bangun dan memikirkan tentang mimpi kita, kita mengatakan itu hanya mimpi belaka. Hanya beberapa detik yang singkat. Tidak lebih dari itu.
Seperti itulah kita diberitahu bahwa ketika kita mati dan berpindah ke dimensi lain, memandang ke belakang kepada kehidupan kita di bumi kita akan mengatakan, “itulah seolah kita hidup (di dunia), hanya sesaat ketika matahari terbenam atau senja.” Inilah realitas yang diungkap kepada kita dalam ayat ke-49 surah An-Naziat di dalam al-Quran.
Kematian akan membuat kita sadar bahwa rentang waktu hidup 70 tahun kita di bumi hanyalah selama 8,6 detik waktu matahari. Segala perjuangan kita, kesedihan-kesedihan kita, ikhtiyar-ikhtiyar kita, semuanya berlangsung hanya dalam beberapa detik ini. Dan perlu dicatat bahwa periode 70 tahun merujuk pada rentang kehidupan secara kasar! Mulai masa kanak-kanak, masa muda, usia lanjut, masa uzur semuanya sudah termasuk di dalamnya. Maka, jika kita mendapatkan jatah periode dimana kita bisa mengevaluasi secara sadar, berapa detik kah yang tersisa?
Oleh karena itu, Islam selalu mengingatkan manusia akan waktu yang singkat tersebut! Islam mengingatkan manusia untuk menghiasi kehidupannya dengan hal yang positif, dengan beribadah kepada Allah SWT. Sebab diciptakannya kita di dunia ini adalah untuk kehidupan yang kekal, akhirat; untuk membangun badan rohani kita dan mengembangkan sumberdaya-sumberdaya untuk perjalanan kita setelah kematian.
Allah SWT berfirman:
وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون.
Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah menyembah (kepada Aku).”
Di dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata ya’budun sebagai penekanan bahwa selama proses hidup, manusia harus selalu melakukan kebaikan dalam rangka beribadah kepada Allah, sampai nanti datang keyakinan – meminjam istilah Gus Shofie, pengasuh PPM. Al-Ashfa Yogyakarta. Hatta ya’tiyakal yaqin, yakni kematian. Jangan sampai di akhir hayat, kita sedang melakukan hal yang dilarang Allah. Karena ‘Ujian Akhir Semester’ manusia dengan Allah itu ketika sakaratul maut. Nah, perbuatan selama hidup di dunia menentukan bagaimana sakaratul maut kita; apakah husnul khatimah? Atau malah su’ul khatimah? Na’uzhubillah min zhalik!
Ketika manusia itu lolos dari Ujian akhir tersebut maka ganjarannya adalah surga. Adapun yang tidak lolos maka dibalas dengan balasan yang pedih. Allah MahaAdil di dalam mengadili hamba-Nya. tidak mungkin Allah menzhalimi manusia. “Barang siapa yang berbuat kebaikan seberat biji zharrah, maka dia akan melihat (merasakan balasannya). Dan barang siapa berbuat kejelekan seberat biji zharrah, maka dia akan melihat (merasakan balasannya).”
Manusia Cerdas VS Manusia Bodoh
Jika manusia tersebut cerdas, tentu dia akan melakukan hal yang bisa menjaminnya di kehidupan akhirat. Dia akan mengorientasikan seluruh aktifitas hidup di dunia untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Sebaliknya, orang yang bodoh adalah mereka yang lalai dengan kehidupan yang kekal setelah di dunia. Sehingga mereka melakukan hal yang tidak ada manfaat bagi dirinya.
Rasulullah Saw bersabda:
إبن آدم أطع ربك تسمى عاقلا ولا تعصه فتسمى جاهلا
Artinya:
“Wahai ibnu Adam: taatlah engkau kepada Tuhanmu, maka kamu adalah orang yang berakal. Dan jangan bermaksiat kepada Tuhanmu (kalau kamu maksiat) maka kamu adalah orang bodoh.”
Di dalam hadist lain, Rasulullah menggambarkan orang yang cerdas dengan sangat gamblang:
أزهد الناس من لم ينس القبر والبلى وترك أفضل زينة الحياة الدنيا، وآثر ما يبقى على ما يفنى، ولم يعدّ غدا من أيامه وعدّ نفسه في الموتى (رواه البيهقي عن الضحاك مرسلا)
Artinya:
“manusia yang paling zuhud adalah manusia yang tidak melupakan kehidupan di kuburan dan kerusakan serta kelenyapannya, meninggalkan perhiasan dunia, mendahulukan perkara abadi dari pada perkara yang akan rusak, lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya, dan mempersiapkan dirinya menghadapi kematian.”
Oleh karena itu, kita harus memperhatikan betul apa yang kita lakukan di dunia ini. Jika sudah terlanjur ceroboh melakukan hal yang bakal menjerumuskan kita ke dalam neraka maka bertaubatlah! Mumpung belum terlambat. Kita harus selalu mengingatkan diri kita bahwa kehidupan yang sebenarnya bukan di dunia ini tapi di akhirat kelak. Dunia ini hanya tempat singgah sementara untuk mengumpulkan modal untuk perjalanan yang lebih jauh dan lebih abadi. Jangan ssampai kita menjadi orang yang celaka dan rugi karena telah menyia-nyiakan waktu yang sebentar ini!



Senin, 19 September 2022

22 DAWUH KH. MAIMOEN ZUBAIR DI HARI SANTRI 22 OKTOBER

Hari Santri Nasional


1. Ana urid, wa anta turid wallahu yaf’alu ma yurid. Kamu punya keinginan, saya juga punya keinginan, tapi yang berlaku adalah keinginan Allah.

2. Jangan (hanya) rame-rame Hari Santri, tapi bangunlah kesantrian.

3. Ayah saya Kiai Zubair bukan pengurus PBNU, tapi Wakil Rais Akbar KH. Faqih Maskumambang selalu didampingi ayah saya.

4. Ayah saya sejak kecil mengajarkan saya rasa nasionalisme. Jangan tinggalkan Islam, tapi hubbul wathon minal iman.

5. NU itu tersusun dari 12 huruf. Lambangnya bola dunia, pada wilayah Indonesia diliputi huruf “Dhad”, “Dhad” itu menunjukan kesempurnaan Rasulullah Saw., yaitu "أنا أفصح من نطق بالضاد" (ana afshahu man nathaqa bid-dhad), aku adalah orang yang paling fasih melafalkan huruf Dhad.

6. NU tidak bisa dipisahkan dengan negara. Resolusi Jihad di bulan Oktober membuahkan hasil Hari Pahlawan 10 November. Bila tidak ada Jihad 22 Oktober di Surabaya, maka November barangkali tidak dijadikan hari pahlawan.

7. Bulan Oktober bulan yang kesepuluh, seorang anak 10 tahun akan dipukul manakala ia tidak shalat.

8. Hari Santri 22 Oktober itu istimewa, sebab;
1) Rasulullah Saw. membangun masjid Quba dalam perjalanan hijrah juga pada bulan Oktober, yaitu 1 Oktober. Al-Quran menyebutnya “La masjidun ussisa ‘alat taqwa min awwali yaumin an taquma fih”,
2) Orang Quraisy kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, yaitu Rihlatasy-Syita. Syita itu ketika matahari berada di selatan katulistiwa, Oktober ada di dalamnya. Buruj sebelah utara ada 6: hamal, tsaur, jauza, sarathan, asad, dan sunbulah. Di selatan juga 6: mizan, aqrab, qaus, jady, dalw, dan hut.

9. Indonesia itu istimewa, hari kemerdekaannya 17 Agustus/8 Ramadhan, sementara Rasulullah diangkat menjadi Nabi 17 Ramadhan/8 Agustus, kali pertama menerima wahyu.

10. Tanggal 17 mengisyaratkan 17 rakaat dan 17 rukun shalat. Bulan Agustus atau bulan kedelapan mengisyaratkan dekatnya seorang hamba dengan Allah, maksudnya manakala dia sujud, ia meletakkan 7 anggota badannya, ditambah 1 hati yang tawajjuh ke hadirat Allah. Inilah posisi terbaik seorang hamba kepada Tuhannya. Hati ini bilamana baik maka baik pula seluruh amalnya, bila buruk maka buruk pula semuanya.

11. Angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka dan sebabnya masuk surga. Mbah Maimun menjelaskan tentang tujuh penolak neraka yang ada dalam anggota sujud meliputi: jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. “Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada tujuh,” ujarnya. “Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah pintu surga.”

12. Tahun 45 itu bagaikan 5 jari, yang mana 4 menjadi pilar, dan akan sempurna dengan adanya 5. Makan bisa saja menggunakan jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking, namun akan sulit jika tidak ada jempolnya.

13. Angka 45, bahwa setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Shubuh, Zhuhur, dan Ashar. “Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia.”

14. Ka’bah itu berdiri kokoh di atas 4 pilar. Indonesia pun mempunyai 4 pilar, yaitu PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar).

15. Dulunya Indonesia terkotak-kotak dengan negara-negara bagian, kini Indonesia bisa bersatu karena 4 hal: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, dan satu negara.

16. Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun bilamana memenuhi 4 hal, yaitu sandang, pangan, papan, dan kesehatan.

17. Yang wajib diikuti itu adalah Rasulullah, ditambah dengan 4 khalifahnya. 'Alaikum bisunnatiy wa sunnatil khulafa-ir rasyidin.

18. Pilar Ka’bah ada 4, karenanya khilafah juga ada 4, yaitu: Khulafaurrasyidin (4 sahabat), Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Selebihnya tidak ada khilafah.

19. Indonesia itu bukan negara Islam, tapi dia disukai banyak non-muslim; begitu juga Rasulullah, beliau Muslim tapi disukai kelahirannya oleh Abu Lahab. Seorang Raja dari Mesir yang non-muslim, karena suka kepada Nabi, ia menghadiahi putri Mesir yang bernama Mariatul Qibtiyah kepada beliau untuk dijadikan sebagai istri.

20. Rasulullah itu keturunan Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim aslinya bukan orang Makkah. Nabi Ismail ibunya (Hajar) dari Mesir, namun menetap di Makkah. Maka Rasulullah mencintai Arab sebagai negaranya karena beliau orang Arab.

21. Maka kita orang Indonesia juga wajib mencintai negara kita. Hubbul wathon minal iman. Hal ini seakan terulang kembali, di jaman Sunan Ampel, Ubilai Khan seorang tokoh non-muslim, juga mencintai Islam. Begitu juga Holago Khan. Dan sekarang di Indonesia banyak non-muslim yang mencintai Islam.

22. Orang Arab itu budaya aslinya adalah jahalah (kebodohan), maskanah (kemiskinan), dan ummiyah (buta huruf), maka kehadiran Rasulullah di tengah-tengah mereka adalah membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Pesan di atas disampaikan Mbah Maimoen Zubair dalam acara malam peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017 di UIN Walisongo Semarang. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Ponpes Fadlul Fadholan dengan Ma'had al-Jami'ah UIN Walisongo, atas inisiatif Dr. KH. Fadholan Musyaffa, Lc, MA.

Ada banyak yang disampaikan Mbah Maimoen, beliau menjelaskan tentang Hari Santri, ke-Indonesiaan, Taurat, Injil, al-Quran, sejarah bangsa-bangsa, sejarah Islam di Indonesia dan lain sebagainya. Yang paling penting adalah, Hari santri bukan cuma sekedar perayaan, tapi bagaimana menumbuhkan rasa kesantrian pada pribadi kita, seperti tawadhu, rajin ibadah, hormat pada yang tua, sederhana, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

Menurut Imam Ghozali r.a, Tingkatan orang berpuasa ada 3, yaitu ; _Puasa awam_ (Shaumul ‘aam) , _Puasa khusus_ (Shaumul Khusus), _Puasa Khususil khusus_ (Shaumul Khususil Khusus)


1. Puasa Orang Awam

أَمَّا صَوْمُ الْعُمُومِ: فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ

“Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menunaikan syahwat.”

Maksudnya, puasa umum atau puasa orang-orang awam adalah “sekedar” mengerjakan puasa menurut tata cara yang diatur dalam hukum syariat. Seseorang makan sahur dan berniat untuk puasa pada hari itu, lalu menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan badan dengan suami atau istrinya sejak dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jika hal itu telah dikerjakan, maka secara hukum syariat ia telah melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan. Puasanya telah sah secara dzahir dari segi ilmu fikih.

2. Puasa khusus

وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ

“Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.”

Tingkatan puasa ini lebih tinggi dari tingkatan puasa sebelumnya. Selain menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan suami istri, tingkatan ini menuntut orang yang berpuasa untuk menahan seluruh anggota badannya dari dosa-dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Tingkatan ini menuntut baik dzahir maupun batin untuk senantiasa berhati-hati dan waspada.

Ia akan menahan matanya dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh الله dan Rasul-Nya. Ia akan menahan telinganya dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh الله dan Rasul-Nya. Ia akan menahan lisannya dari mengucapkan hal-hal yang diharamkan oleh الله dan Rasul-Nya. Ia akan menahan tangannya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh الله dan Rasul-Nya. Ia akan menahan kakinya dari melangkah menuju hal-hal yang diharamkan oleh الله dan Rasul-Nya. Dan seluruh anggota badannya yang lain ia jaga agar tidak terjatuh dalam tindakan maksiat.Tingkatan puasa ini adalah tingkatan orang-orang shalih.

3. Puasa sangat khusus

وَأَمَّا صَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ: فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُلِّيَّةِ

“Puasa sangat khusus adalah berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala tujuan selain الله secara totalitas.”

Tingkatan ini adalah tingkatan puasa yang paling tinggi, sehingga paling berat dan paling sulit dicapai. Selain menahan diri dari makan, minum dan berhubungan, serta menahan seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat, tingkatan ini menuntut hati dan pikiran orang yang puasa untuk selalu fokus pada akhirat, memikirkan hal-hal yang mulia dan memurnikan semua tujuan untuk الله semata.

Puasanya hati dan pikiran, itulah hakekat dari puasa sangat khusus. Puasanya hati dan pikiran dianggap batal ketika ia memikirkan hal-hal selain الله, hari akhirat dan berfikir tentang (keinginan-keinginan) dunia, kecuali perkara dunia yang membantu urusan akhirat. Inilah puasa para nabi, shiddiqin dan muqarrabin. (Imam Abu Hamid al-Ghozali, Ihya’ Ulumiddin, 1/234)

Saudaraku seiman dan seislam pemerhati MUTIARA RAMADHAN yang dirahmati الله SWT. Ingatlah sabda Rasulullah SAW,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang berpuasa namun balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga semata. Dan betapa banyak orang melakukan shalat malam (tarawih dan witir) namun balasannya dari shalatnya hanyalah begadang menahan kantuk semata.” (HR. Ahmad no. 8856, Abu Ya’la no. 6551, Ad-Darimi no. 2720, Ibnu Hibban no. 3481 dan Al-Hakim no. 1571. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Sanadnya kuat)

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam diatas, Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

 MEMBERI UNTUK MENDAPATKAN LEBIH

Suatu ketika, dua orang bayi yang akan dilahirkan ke dunia, mendapat pertanyaan dari malaikat. Mereka ditanya sesampainya di dunia, ingin jadi orang yang memberi atau orang yang menerima. 

Sebelum ceritanya saya lanjut, Anda bisa ikut memilih. Apakah ingin jadi orang yang menerima atau yang memberi. Silakan.

Bayi pertama dengan lantang menjawab, "Tentu, jadi orang yang selalu menerima dong!"

Bayi kedua menjawab, "Saya ingin jadi orang yang selalu memberi."

Lalu, diturunkanlah kedua bayi itu ke dunia. Bayi pertama setelah dewasa menjadi seorang pengemis yang selalu menengadahkan tangan. Sementara bayi kedua menjadi seorang kaya raya yang selalu bersedekah. (Disadur dari channel YouTube Merry Riana)

Bagaimana dengan pilihan Anda tadi? Apakah sesuai harapan?

Ya, sebagian orang sering salah persepsi mengenai konsep take and give ini. Masih banyak orang berpendapat, memberi hanya akan membuat mereka kekurangan, hanya akan membuat mereka kesulitan. Padahal, orang yang memberi justru akan semakin bertambah kaya. Jika tak kaya materi, kaya amal, juga kaya hati. Poin terakhir bahkan tak bisa disetarakan dengan uang.

Berbagai penelitian oleh para ahli juga mendukung betapa berbagi itu penting dan justru lebih menguntungkan si pemberi daripada penerima. Seperti yang dilansir Greatmind.id, ada beberapa keuntungan yang akan kita dapat dengan berbagi.

1. Lebih bahagia
Professor Michael Norton dalam studi yang dilakukannya di Harvard Bussines School menemukan fakta, orang-orang yang menggunakan uangnya untuk berbagi kepada sesama lebih terlihat bahagia daripada orang yang menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. Studi lainnya menyebutkan, berbagi dapat memicu keluarnya hormon endorfin yang memberi rasa positif si pemberi.

2. Menyehatkan
Beberapa penelitian di Universitas Michigan dan  Universitas California menemukan fakta, orang-orang yang membantu orang di sekitarnya, memberi dukungan materi hingga emosional kepada pasangan, kerabat, hingga tetangga memiliki derajat kesehatan yang lebih baik bahkan memperpanjang usia. 

3. Mengajarkan Bersyukur
Seringnya, manusia fokus pada kekurangan dan melupakan nikmat kelebihan yang mereka miliki. Hal inilah yang membuat orang-orang sulit merasa cukup, sulit bersyukur. Berbagai riset ilmuwan membuktikan, berbagi bahkan dalam kekurangan sekalipun mampu membuat manusia bersyukur. Berbagi bisa membuat kita menyadari bahwa selalu ada orang yang tidak seberuntung kita saat ini.

4. Salah satu hasil penelitian yang menarik adalah berbagi dapat mengurangi stres. Seperti yang kita semua alami, masa pandemi ini rentan memicu stres siapa saja. Dengan berbagi mulai dari hal kecil seperti senyuman, perhatian, hingga materi justru akan membantu menurunkan stres dan membuat diri lebih positif. So, bakal menaikkan imunitas tubuh juga pada akhirnya. Luar biasa, bukan?

Itulah empat dari sekian banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan berbagi. Jadi, sudahkah kamu berbagi untuk mendapatkan lebih banyak?


مَنْ يَزْرَعْ يَـحْـصُدْ

 

مَنْ يَزْرَعْ  يَـحْـصُدْ

TANAMLAH!...ADA SAATNYA MEMETIK

          Tanamlah pohon! Jangan pikirkan berapa tahun lagi apakah kita bisa menikmatinya. Niatkan semua yang ditanam tubuh subur dan dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. Kenapa demikian?

          Begitulah siklus kehidupan. Menanam bukan harus kita yang menikmati, tapi yakinlah setiap yang ditanam akan ada masanya memetik. Jangan ragu dalam menanam, siapa yang akan memetiknya. Tanam dan niatkan semua yang ditanam bermanfaat bagi siapa yang akan memetiknya.

          Menanam kebaikan ibarat menanam pohon. Setiap kebaikkan yang dilakukan tidak perlu memandang siapa yang akan dibantu. Seandainya ada seseorang mohon bantuan kita, lakukan sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Apakah takut tersaingi? jangan ragu..Allah Maha Melihat, setiap rezki manusia telah Allah tempatkan pada posisinya masing-masing.

          Setiap kebaikan yang kita lakukan, belum tentu orang yang kita bantu yang membalasnya. Tapi yakinlah ada tangan lain yang memberikan bantuan disaat kita perlu dibantu.

          Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al maidah ayat 2 " dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran".

          Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk menanam kebaikan dengan sesama. Setiap yang melakukan kebaikan akan bernilai ibadah dan akan mendapatkan pahala disisi Allah swt. Rasulullah SAW dalam sabdanya menyampaikan :

          “Barangsiapa menolong orang yang sangat membutuhkan, maka Allah mencatatnya sebanyak 73 ampunan. Satu ampunan terdapat kebaikan semua masalahnya, yang 72 (menaikkan) derajatnya pada Hari Kiamat” (HR. Bukhari dan Baihaqi).

          Tanamlah pohon kebaikan !. Jangan ragu akan ada waktunya memetik apa yang ditanam. Kapan dan dimana? Hanya Allah SWT yang tahu. Allah akan membalas sekecil apapun kebaikan yang dilakukan. (QS. Az Zalzalah:7-8)

¢ (#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur

"dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran"..

 


 

 

KHUTBAH JUM'AH

Ijazah Doa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk Kemajuan NU

Sebagai organisasi yang didirikan oleh para ulama, keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran penting dalam menjaga tradisi Islam Ahluss...