Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2022

Definisi Salikin

 RIYADLOH MALAM KAMIS 17-02-2016

Saalik = jalma nu hatena hayang ngadeuheus ka Alloh dimana ngucapkeun kalimah لاإله ألا الله nekadkeun yen “teu aya Pangeran anging Alloh” Pangeran nu bisa dipuntangan, Pangeran nu kawasa, nu nyiptakeun alam dunya, nu nyiptakeun diri ieu awak sakujur, nepika karasa ku jiwana yen dirina teh tapak padamelan Alloh, tapak Qudrot Alloh, teu aya nu bisa jeung kawasa kana nyiptakeun diri kuring anging Alloh, maka hatena ikrar “abdi aya ayeuna didieu keur kieu wungkul tapak damel Alloh”, karasa diri teu bisa leupas tina Qodlo jeung Qodar Alloh, kuring mah wujud semu, ayana sementara, nu wujud hakeki mah wungkul Alloh, pok ikrar deui: “لا موجود إلاالله”.
Letah ngucapkeun “لاإله إلاالله” hatena nyanghareup ka Alloh, dumeuheus ka Mantena, nyanggakeun pangabakti, yen teu aya nu hak di ibadahan anging Alloh “لا معبود إلاالله”, maka dina waktu nu ieu hatena ikrar: “Dina damel Alloh nu ieu abdi ibadah ka Alloh”
Anteng hatena mayun ka Alloh bari mapay takdir nu keur karandapan, pangna ayeuna dzikir mayun ka Alloh sabab teu aya nu hak di ta’ati parentah jeung laranganana anging Alloh, pagawean nu keur dipigawe ieu di sejakeun ka Alloh, yen dipigawe kalakuan ieu teh seja tumut kana parentahna “لامطلوب إلا الله” , hatena ikrar: “Abdi migawe ieu pagawean pedah parentah Alloh” 

Minggu, 06 Maret 2016

Syari'at - Ma'rifat

K. Ang Hidayah Asy-Syafi'ie

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Ajjiluu bishsholaati qoblal faut wa ajjiluu bittaubaati qoblal maut !!

Shalat bisa dikerjakankan oleh semua usia dari anak-anak sampai kakek-nenek. Hanya saja, cukupkah shalat dikerjakan ? Sementara di dalam Al Qur-an ditegaskan bahwa shalat harus didirikan.
Alangkah indahnya apabila shalat dimaknai dari segi syari'at, thorikat, hakikat, dan ma'rifat.

Dari segi (alam) syari'at, shalat mengandung makna suatu perbuatan yang memiliki hukum wajib yang harus dikerjakan menurut aturan dan ketentuan yang sudah dibakukan oleh syara'. Setelah berniat melakukan suatu shalat, mulailah dengan takbirotul ihrom dan diakhiri dengan berucap salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Tentunya dengan melakukan gerakan-gerakan dan melafadzkan bacaan-bacaan yang sudah ditetapkan. Orang akan merasa berdosa apabila tidak mengerjakan atau melalaikan shalat.

Dari segi (alam) thorikat, shalat adalah jalan yang mesti dilalui untuk mencapai tujuan, menemuai-Nya. Setiap bacaan, gerakan, dan aturan shalat sudah mulai direalisasikan dan dibiasakan di dalam kehidupan sehari-harinya. Misal, seseorang sering dan memperbanyak membaca laa ilaaha illallaah dalam dzikirnya. Dia sedang merealisasikan sebagian bacaan attahiyat : asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rosuulullaah. Misal lain, seseorang membiasakan menjaga wudlunya (bersuci) setiap waktunya, baik ketika di rumah, di perjalanan, di kantor/tempat pekerjaan, ataupun di mana saja dia berada. Hal ini memiliki pengertian bahwa dia sedang merealisasikan salah satu yang menjadi syarat syah shalat.

Dari segi (alam) hakikat, shalat dimaknai sebagai sarana berkomunikasi dengan Sang Kholik, Allah Swt. Bagi orang yang sudah masuk ke alam hakikat ini, apabila mendengar suara adzan dia merasa Allah memanggilnya dengan kerinduan-Nya. Serta merta dia pun bersegera menjumpai-Nya dalam shalatnya. Dia merasa sedang berhadapan dan berdialog dengan-Nya. Atau, paling tidak, berkeyakinan bahwa Allah sedang menatapnya. Dalam kesehariannya dia merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. Ketika melihat makhluk ciptaan-Nya, dia merasa Allah ada di sana.

Dari segi (alam) ma'rifat, seseorang dalam shalatnya benar-benar sedang merasakan nikmatnya, indahnya, dan bahagianya berkasih sayang penuh rindu dan cumbu rayu dengan Sang Kekasih, Allah Swt. Seperti, menikmati gula, terasa benar manisnya yang khas, Dia tidak ingin shalatnya cepat selesai, ingin berlama-lamaan. Walaupun salam telah mengakhiri shalatnya, dia selalu rindu untuk segera bertemu kembali dengan Kekasih yang mencintainya. Dalam kesehariannya dia berusaha selalu berbuat dan bersikap ihsan supaya Sang Kekasih tidak marah. Dia sayang kepada setiap insan. Dia tak mau dan tak mampu menyakiti hewan ataupun tumbuhan.

Mungkin diantara kita ada yang bangga dapat mengerjakan shalat selalu awal waktu dan berjamaah. Atau mungkin juga diantara kita merasa malu tatkala teringat dalam shalatnya betapa agung kasih-sayang Allah yang senantiasa tercurahkan walaupun kita tak dapat menghitung dosa yang pernah dlakukan.

Masih inginkah kita shalat dihadiahi dengan syurga ?

Rabu, 17 Februari 2016

TAKDIR MUBROM & GHOIRU MUBROM (MU'ALLAQ)

Qodlo/ketetapan Alloh swt/ takdir yang bisa dirubah adalah qodlo yang Ghoiru Mubrom, sebagaiman Syekh zaid Al-manawi menerangkan dalam Faidul Qodir II/83 “memperbanyak doa dapat menolak/ merubah Qadlo Alloh swt yang Ghoiru Mubrom” yaitu ketetapan Alloh yang sudah ditetapkan di Lauhil Mahfudz, atau yang sudah tertulis dicatatan para Malaikat akan tetapi tdk ILMU-AZALY karena ILMU AZALY (tdk bisa berubah) bertambah & berkurang.

( لا يغني حذر من قدر ) تمامه عند الحاكم والدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل وإن البلاء لينزل فيتلقاه الدعاء فيعتلجان إلى يوم القيامة اه بنصه فيستعمل العبد الحذر المأمور به من الأسباب وأدوية الأمراض والاحتراز في المهمات معتقدا أنه لا يدفع القضاء المبرم وإنما يدفع الدواء والتحرز قضية معلقة بشرط غير مبرم
فيض القدر:5/452

Maqolah Al-Qodli: Qodlo adalah irodah Alloh swt yang AZALY yang sudah ditetapkan atas perkara yang sudah terjadi, secara terperinci atau tartib atas kejadiannya, sedangkan TAQDIR bersifat TA’ALUQ (berhubungan) dengan beberapa perkara dan IRODAH (kehendak Alloh swt).
Penjelasan ini juga dilanjutkan ulang oleh Syekh Zaid Al-manawi pada pembahasan berikutnya V/452 bahwa doa dapat memberi kemanfaat atas perkara yang akan turun (terjadi) atau yang tdk terjadi dengan syarat TAKDIR GHORU MUBROM.

وأما بخصوص الزواج فهو كسائر رزق العبد، ولكن القضاء نوعان: قضاء مبرم: وهو القدر الأزلي، وهو لا يتغير، وقضاء معلق: وهو الذي في الصحف التي في أيدي الملائكة، فإنه يقال: اكتبوا عمر فلان إن لم يتصدق فهو كذا وإن تصدق فهو كذا. وفي علم الله وقدره الأزلي أنه سيتصدق أو لا يتصدق، فهذا النوع من القدر ينفع فيه الدعاء والصدقة لأنه معلق عليهما.
فتاوي السبكى الإسلامية: 1:2476 المكتبة الشملة

Adapun Kekhususan jodoh spt Rizqi seorang hamba, akan tetapi qodlo’ ada dua maca yaitu Qodlo Mubrom adalah bersifa TAKDIR AZALY yang tdk bias berubah, dan Qodlo Mu’alaq adalah takdir yang tertulis atas kekuasaan para malaikat, spt gambaran tulislah umur fulan jika tdk mau bershodaqoh dengan demikian demikian. Yang demikian itu mua’allaq (bergantung) atas ketetapan Alloh swt yang Azaly apakah fulan tersebut akan bershodaqoh atau tdk?

Jika fulan tersebut bershodaqoh, maka termasuk jenis doa & shodaqoh yang memberi kemanfaatan atas Takdir Ghoiru Mubrom Alloh swt, karena keduanya (bedoa & shodaqoh) member kemanfaatan qodlo/takdir Alloh swt yang Ghoiru Mubrom.
Jadi kesimpulannya takdir memang ada dua maca Takdir Mubrom & Ghoiru Mubrom, Takdir Mubrom adalah takdir yang tdk bias berubah sedangkan Ghoiru Mubrom dapat berubah dengan berdoa memohon kepada Alloh swt, Bershodaqoh, dan berikhtiar.

sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’du ayat 39 yang berbunyi:
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz).”

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam do’anya yaitu “Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia”.

TAKDIR MU'ALLAQ (Takdir Yang Diikuti Sebab Akibat)

Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu DAN HAL- HAL yang telah ditentukan. Gambarannya: “Seandainya hambaku berdo’a atau bersilaturrahmi dan berbakti kepada kedua orang tua, maka Aku jadikan dia begini, jika dia tak berdo’a dan tidak bersilaturrahmi serta durhaka kepada kedua orang tua, maka ia Aku jadikan seperti ini

Dalam salah satu hadits lain Nabi Muhammad saw pernah bersabda;
إنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ

“Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.”

Khalifah Umar bin khattab, suatu ketika, pernah mau berkunjung ke Syam ( Yordania, Palestina, Suriah dan sekitarnya). pada saat itu di Syam sedang berjangkit penyakit menular, lalu Umar membatalkan rencananya tersebut. pembatalan tersebut didengar oleh seorang sahabatnya yang kemudian berkata : “Apakah anda mau lari dari takdir Allah ?”. Umar pun menjawab: “Aku lari dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain yang lebih baik”..

Kisah sayyidina umar diatas mengindikasikan bahwa kita ini berhak memilih ,mau dibawa kemana badan kita, keburukan atau kebaikan , surga atau neraka, tp semua itu lagi2 atas penetapan allah, kita cuman bisa berikhtiyar do'a dan melakukan kebaikan.. yg jelas antara kita dan allah itu ada imbal baliknya, kita bertaqorrub kpd allah allahpun akan mendekat, kita menjauhi Allah, allahpun juga akan menjauhi kita..
insya'allah gambaranya seperti itu, semoga pas dan mengenai sasaran.. Wallahua'lam.

Senin, 15 Februari 2016

SIAPAKAH SEBENARNYA ASY'ARIYYAH ?

Berawal dari pertanyaan yang tak terjawab dari member Piss-Ktb tentang kenapa dan mengapa harus mengikuti ASY'ARIYYAH, siapakah sebenarnya ASY'ARIYYAH ??? Berikut saya coba buat catatan khusus yg semoga bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Banyak orang yang tidak mengerti apa sebenarnya madzhab Asy'ariyyah, siapa mereka dan bagimana methode pemikiran mereka dalam akidah, hingga madzhab Asy'ariyyah tersebut di labeli madzhab sesat serta keluar dari agama. Lebih ekstrim lagi, ada sebagian kalangan yang tanpa ragu-ragu menilai pengikut madzhab Asy'ariyyah adalah kufur.

Ternyata jahil mengenai madzhab Asy'ariyyah menjadikan pangkal kehancuran dan perpecahan di tubuh Ahlussunnah wa al-Jama'ah. Bahkan ada yang mendudukkan pengikut Asy'ariyyah di sejajarkan dengan golongan yang sesat. Kami sungguh tidak tahu argumen mereka, bagaimana mungkin ahli iman dan termasuk golongan Ahlussunnah di sejajarkan dengan kelompok sesat ? Na'udzubillah.

Dalam kitab al-Ghuluw, makalah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki hal. 23 dalam dialog nasional ke-2 di Makkah Mukarramah, di sebutkan bahwa tindakan anarkis dari sebuah kelompok yang selalu menyeru berjihad ternyata melakukan pembakaran kitab-kitab dan mausu'ah ilmiyyah (ensiklopedi) termasuk diantaranya adalah kitab Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari karya al-Hafizh Ibnu Hajar hanya gara-gara beliau di tuduh bermadzhab Asy'ari serta mengikuti jejak Asy'ariyyah dalam mentafsiri hadits-hadits sifat yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

Siapakah Asy'ariyyah sesungguhnya ? Asy'ariyyah adalah kelompok ulama-ulama Islam yang terdiri dari ahli hadits, ahli fiqh dan ahli tafsir seperti:

1. Al-Hafizh Abu Hasan ad-Daraquthni

2. Al-Hafizh Abu Nu'aim al-Ashbahani, penulis Hilyah al-Auliya'

3. Al-Hafizh al-Hakim an-Nasaiburi, penulis al-Mustadrak

4. Al-Hafizh Ibni Hibban

5. Al-Hafizh al-Baihaqi

6. Al-Khathib al-Baghdadi

7. Al-Hafizh as-Sakhawi

8. Syaikh al-Islam Ibnu Shalah

9. Syaikh Ibnu Daqiq al-Id

10. Al-Hafizh Ibnu Abi Jamrah al-Andalusi

11. Al-Hafizh al-Mundziri, penulis at-Targhib wa at-Tarhib

12. Syah Waliyullah ad-Dihlawi, penulis kitab Hujjah Allah al-Balighah

13. Al-Hafizh al-Munawi, penulis kitab Faidh al-Qadir

14. Qadhi Iyadh, penulis asy-Syifa' bi Ta'rifi Huquq al-Mushthafa

15. Syaikh Ibni Khaldun, penulis al-Muqaddimah

16. Abu Ishaq al-Isfirayini

17. Imam Abu Bakar al-Baqillani

18. Sa'duddin at-Taftazani, penulis kitab Syarah al-Maqashid

19. Sulthan al-Ulama, Izziddin bin Abdissalam

20. Imam Ibnu Asakir

21. Imam as-Sirazi

22. Al-Hafizh al-Kirmani, penulis Syarah Shahih al-Bukhari

23. Ibnu Hajar al-Asqalani (seorang ahli hadits yang tanpa disangsikan lagi bahwa pengarang kitab Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari tersebut adalah bermadzhab Asy'ari dan kitabnya tersebut adalah kitab yang tidak bisa di tinggalkan ulama).

24. Imam an-Nawawi (guru besar Ahlussunnah dan pengarang kitab Syarah Shahih Muslim).

25. Imam al-Qurthubi (guru besar tafsir dan pengarang kitab tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an).

26. Imam al-Hafizh al-Mufassir Ibnu Katsir

27. Imam Mufassir Fakhruddin ar-Razi

28. Imam al-Hafizh al-Baghawi, penulis kitab Syarah as-Sunnah

29. Imam az-Zarkasyi

30. Imam Mufassir Abu Laits as-Samarqandi

31. Imam Mufassir Ibnu Athiyyah al-Andalusi

32. Imam Mufassir Abul Hasan an-Naisaburi

33. Ibnu Hajar al-Haitami (pengarang kitab az-Zawajir dan lain-lain)

34. Zakariyya al-Anshari (guru besar fiqh dan hadits)

35. Abu Bakar al-Baqillani

36. Al-Qusthalani (penulis Irsyad as-Sari Syarah Shaih al-Bukhari)

37. An-Nasafi (ahli tafsi dan penulis tafsir an-Nasafi)

38. Imam asy-Syirbini

39. Abu Hayyan an-Nahwi

40. Imam al-Juwaini

41. Imam al-Haramain

42. Imam al-Ghazali

43. Imam al-Qarafi, murid Izziddin bin Abdissalam

44. Imam az-Zabidi, pengarang kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin

45. Imam as-Sathibi (ulama' qira'at)

46. Imam Dhiya'uddin al-Maqdisi

47. Imam Ibnu Hajib

48. Imam Ibnu Abidin

49. Imam al-Qari' Ibnu Jazri

50. Imam al-Hafizh Ahmad Ash-Shiddiq al-Ghumari

51. Imam al-Bajuri, penulis kitab al-Bajuri Ibni Qasim

52. Al-Habib al-Quthb Abdullah bin Alawi al-Haddad.

53. Imam ar-Rafi'I asy-Syafi'i

54. Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki

55. Syaikh Yusuf an-Nabhani

56. Syaikh Mutawalli asy-Sya'rawi (Mesir)

57. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Mekkah

58. Sayyid Abbas al-Maliki

59. Sulthan Shalahuddin al-Ayyubi (Dinasti Abbasiyyah)

60. Sulthan Muhammad al-Fatih

61. Dan lain-lain.

Izzuddin bin Abdissalam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah madzhab Asy'ari telah disepakati oleh seluruh ulama Syafi'iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan para petinggi ulama Hanbilah. Di antaranya adalah guru besar madzhab Malik yang hidup sezaman dengan Imam Asy'ari, yaitu Syaikh Abu Amr bin Hajib dan guru besar madzhab Hanafi, Jamaluddin al-Hushairi. Imam al-Khayali mengatakan dalam Hasyiyah Syarah al-Aqaid bahwa madzhab Asy'ariyyah adalah Ahlussunnah wa al-Jama'ah. ( Ittihaf as-Sadah juz 2 hlm. 7 ).

Bahkan Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawi (IV/16) mengatakan tentang madzhab Asy'ariyyah: "Adapun para ulama yang melaknat Imam-Imam Asy'ariyyah, maka sesungguhnya siapa yang melaknat mereka, maka harus di ta'zir (di beri hukuman) dan laknat tersebut kembali kepada pelaknatnya. Siapa yang melaknat seseorang yang tidak berhak di laknat, maka laknat akan mengenai dirinya sendiri. Ulama adalah penolong ilmu-ilmu agama dan Asy'ariyyah adalah penolong dasar-dasar agama (ushul ad-din)"

Fatwa Ibnu Taimiyyah tersebut di sebutkan dan di tulis Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam makalah dialognya, namun mendapat sanggahan dari Dr. Yusuf al-Ghanifaish (tercatat dalam makalah hal. 57), dikatakan bahwa, "Yang disebutkan oleh Dr. Muhammad al-Maliki, sebenarnya bukan perkataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, akan tetapi perkataan Abu Muhammad al-Juwaini sebagaimana di sebutkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyyah di dua halaman sebelumnya" Kemudian Sayyid Muhammad mengucapkan terima kasih dan memberikan tanggapan bahwa Syaikh Ibnu Taimiyyah sependapat dengan fatwa Abu Muhammad al-Juwaini . (Lihat al-Ghuluw hlm 60.)

Dari itu semua, jika pengikut madzhab Asy'ariyyah di anggap sebagai orang sesat, maka berapa ribu ulama Asy'ariyyah dan berapa juta muslimin yang menjadi korban penyesatan dan pengkufuran ? Lalu kenapa, mereka selalu mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Katsir, al-Qurthubi, ar-Razi, Ibnu Hibban dan lain-lain, yang padahal mereka semua dianggp sesat ?

Catatan : Adapun cerita yang menyebutkan bahwa Imam Haramain merujuk kembali pendapatnya tentang ilmu kalam sebagaimana di tulis oleh Khalid Abdurrahman Ekk dan ulama-ulama lain (madzhab Wahhabi) dalam catatan kitabnya, Dalail at-Tauhid karya Jamaluddin al-Qasimi, adalah palsu dan bohong sebagaimana di jelaskan oleh Ibnu as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi'iyyah biografi Imam Haramain. Begitu juga dengan Imam al-Ghazali.

KHUTBAH JUM'AH

Ijazah Doa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk Kemajuan NU

Sebagai organisasi yang didirikan oleh para ulama, keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran penting dalam menjaga tradisi Islam Ahluss...